Thursday, 16 January 2020

Resensi novel Pertemuan Sore Itu


Judul : Pertemuan Sore Itu
Penulis: Alyanis Desi
Penerbit: Mandiri Jaya Publishing
Cetakan : I
Tahun: 2018
Jumlah halaman: vii+213

"Sulit. Tak mudah untuk memutuskan pergi. Jika bukan kamu, maka aku yang akan menjauh. Karena tak mungkin berjalan dalam 'rasa' yang salah " (Hal.155)

Buku ini berupa novel yang menceritakan seorang guru muda yang cerdas, kreatif, sangat dekat dengan siswa dan mandiri. Guru ini bernama Annisa Alya Jameela.

Kepribadian yang dimilikinya membuat sang kepala sekolah mengangkatnya menjadi wali kelas di kelas terfavorit di sekolah itu.

Kecerdasanya membuat dia mendapatkan undangan bertemu langsung dengan nomor 1 RI, karena berhasil seleksi mengikuti lomba Best Practice Teacher tingkat Nasional di Bogor.

Kedekatannya dengan siswa, membuatnya disayangi oleh semua muridnya. Namun siapa sangka dari kedekatan dengan salah satu muridnya, dia berkenalan dengan seorang Priyo.

Berawal dari perkenalan dengan Priyo inilah, semua perasaan yang tak biasa dirasakan Alya. Mulai dari resah, cemas, tak berdaya, rindu dan cinta. Perasaan yang sebenarnya wajar dirasakan oleh seorang wanita ketika "tertarik" dengan lawan jenisnya.

Hingga suatu saat mereka berkomitmen untuk saling menunggu sampai kelak dipersatukan dalam ikatan rumah tangga. Namun berapa lama waktu untuk menunggu yang tidak terukur, membuat Alya tak nyaman. Dia merasa semua menjadi tak pasti, tak yakin dengan hubungan yang dijalaninya. Dia mulai bemesraan kembali dengan kegiatan keislaman, disinilah dia tahu bahwa hubungan yang dijalaninya selama ini bersama Priyo termasuk perbuatan mendekati zina.

Perasaan bersalah terus menghantuinya, ia pun memberanikan diri menanyakan kejelasan hubungannya pada Priyo, tegas dia bertanya kapan akan menikah. Dan jawaban Priyo, membuat Alya yakin untuk menjauhi Priyo.

Pada akhirnya Alya harus memutuskan apa yang menurut dia benar, meski dia tahu masih memiliki cinta dan harapan pada Priyo. Dia pergi merantau, menjauhi Priyo.

Tiga tahun berlalu di rantau membuat Alya rindu akan kampung halamannya, ia pun menyadari masih menyimpan harapan pada Priyo, namun apalah daya dia harus menerima kenyataan jika Priyo tak bisa dia miliki kembali.

Novel ini diawali dengan kata pengantar yang tidak biasa, penulis seolah sedang berinteraksi dengan seorang manusia padahal yang dimaksud adalah ide cerita.

Novel yang menurut saya cukup menarik. Dengan alur maju mundurmembuat pembaca penasaran dengan kelanjutan kisah yang diceritakan.

Wednesday, 15 January 2020

Resensi "Pemuda Bukan Remaja"

Judul: Pemuda Bukan Remaja
Penulis: Kiki Barkiah
Tahun terbit: 2019
Cetakan ke: 1
Penerbit: CV Mastakka Publish

"Karena tak semua anak yang telah baligh  mencapai aqil"

Buku ini merupakan buku parenting keluarga muslim, terdiri dari 7 judul besar. Mengantarkan anak mencapai aqil saat masa balig tiba. Membangun konsep diri pemuda. Kolaborasi 10 metode pendidikan. Mengantarkan anak menuju kemandirian hidup sedari dini. Pemuda dan masalah. Allah tempat berserah, rumah solusi masalah. Berbagi kisah keluarga penulis.

Di awal membaca saya menemukan perbedaan antara konsep remaja dan pemuda, pada halaman-halaman berikutnya saya merasa buku ini penuh dengan teori, saya sempat bertanya-tanya apakah sampai halaman terakhir  buku ini hanya teori parenting? Ternyata di judul terakhir saya menemukan jawabannya.

Dijudul terakhir ini dipaparkan contoh nyata pengaplikasian  teori-teori yang dibahas sebelumnya. Contoh nyata yang dialami penulis selama mendidik anak-anaknya.

Kesan yang sangat luar biasa saat saya membaca di judul terakhir ini. Bagaimana penulis menyiapkan anak-anaknya menjadi cerdas dan mandiri finansial (mengelola  keuangan), membimbing anak agar mencintai kebaikan, tentang kejujuran, membangun komunikasi yang baik, dan kondisi-kondisi saat sang anak sekolah di Pesantren. Semua penulis paparkan dalam bentuk diary.

Membaca kisah keluarga penulis, menggambarkan bagaimana mendidik itu tidak semudah teori dan tak sesulit yang dibayangkan. Kunci keberhasilan adalah senantiasa berikhtiar  mengantarkan anak-anak menjadi pemuda yang aqil tabligh dan hidup mandiri. Dan senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan nya.

Secara keseluruhan buku ini termasuk buku yang saya anjurkan untuk dibaca para orang tua. Bukan hanya orang tua yang memiliki anak usia remaja saja, karena sejatinya pendidikan anak itu berawal dari saat anak masih hidup di alam rahim.

Adapun untuk orang tua yang memiliki anak remaja, buku ini akan sangat membantu membimbing para orang tua agar dapat mengantarkan anak remajanya menuju aqil balig dan kemandirian hidup.

Wednesday, 11 December 2019

Tahun Baru Vs Tahun Lalu


Tahun Baru Vs Tahun Lalu
               
                Tak terasa hari terus berlalu, bulan Desember perlahan namun pasti meninggalkan Q-ta. Namun tak ada salahnya kalau Q-ta sedikit membahas tentang Tahun Baru.

        Kalian tau nggak sich, kalo’ hari pertama  di tahun baru bagi sebagian orang adalah hari awal tuk membuat rencana baru, program baru. Gimana dengan kalian?

        Terlepas dari perbedaan pendapat tentang tahun baru, yang jelas tahun baru ini selalu dirayakan oleh sebagian orang, terutama remaja seperti kalian.

        Sekitar jam 8 malam rombongan orang mulai memenuhi alun-alun. Ada yang datang sama temen2 se-genknya, ada juga yang dateng sama keluarganya, mulai anak, ayah, ibu, paman, bibi sampe’ nenek & kakeknya.


      
Semua berkumpul menanti datangnya hari pertama di tahun baru. Setiap orang memegang terompet. Dan tepat jam 12 malem semua meniup terompetnya, seee keras-kerasnya.


        Keadaan seperti ini menjadi hal yang biasa dan dibiasakan terjadi, entah sejak kapan perayaan tahun baru ini jadi tradisi, yang jelas banyak orang rela merogoh sakunya dalam2 untuk membiayai perayaan tahun baru ini. Dalam sekejap uang ratusan ribu bisa  melayang, habis di tengah perayaan tahun baru ini.
Nampak mubadzir ya?!

        Terlepas dari semua itu, ada baiknya tahun baru ini Q-ta jadikan sebagai tahun yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tahun baru ini kan berarti bumi yang Q-ta tinggali ini makin tua, itu berarti juga Q-ta makin tua, semestinya Q-ta di tahun baru ini lebih dewasa. Misalnya kalo’ dulu2 segala keperluan Bunda yang siapin atau ayah yang beliin. Tahun ini... mesti lebih mandiri.

        Kalo’ dulu apa2 nangis, apa2 ngerengek kalau ada masalah. Tahun ini harus belajar tuk hadapi masalah dan menyelesaikannya dengan lebih dewasa. Kalo tahun-tahun kemarin shalatnya bolong2, tahun ini mesti lengkap 5 waktu bahkan sama sholat2  sunatnya.

        Bawa perubahan2 diri ke arah yang lebih baik lagi dari mulai ibadah ukhrowi sampai hal2 yang sifatnya duniawi. Gali dan kembangkan terus potensi yang ada yang mungkin di tahun lalu belum ketahuan, padahal  kalian punya segudang bakat yang bisa buat kalian lebih happy karna talenta kalian  bisa dirasakan manfaatnya.

Singkatnya, jadikan tahun lalu sebagai cerminan buat langkah Q-ta di tahun ini dan jadikan tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Ok!


Catatan: Artikel ini pernah dimuat di bulletin masjid dan dipublikasikan di mading BK SMPN 2 Banjaran

Resensi "MAHARESA"

Hai Readers apa kabar? Kembali lagi dengan saya yang mau berbagi resensi buku yang dibaca bulan Juni ini.  Ada dua novel yang udah selesai a...